Pertanyaan :

Kalau tidak salah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan juga buletin Al-Huda memberikan jalan keluar dalam masalah Ahmadiyah untuk berdiri sendiri sebagai agama dan berada di luar agama Islam.

Pertanyan Kami apakah kesempatan untuk menjadi agama baru tersebut hanya spesial diperuntukkan kepada Ahmadiyah?. Ataukah juga terbuka untuk berbagai pihak lain yang bisajadi akan mendirikan agama baru. Sebagai contoh “komonitas Eden”-nya Lia Aminudin. Ataupun orang yang bernama Mosadeq yang sekarang sedang diadili, apakah mereka itu bisa bikin agama baru?.

Menurut hemat kami hal itu perlu difikirkan dengan matang, karena kepu-tusan untuk mempersilahkan Ahmadiyah membikin agama baru, apa tidak menjadi bumerang bagi agama Islam dan umat Islam Indonesia di masa depan?, karena berdasarkan preseden terhadap Ahmadiyah itu kemudian mereka bisa menggunakan opsi tersebut untuk keluar dari Islam.

Karena berdasarkan kenyataan yang ada di masyarakat, selalu saja ada orang
yang mengaku menerima wahyu dari malaikan Jibril diangkat sebagai nabi dan rasul dan kemudian mengembangkan ajarannya sendiri.

Apakah bila terjadi hal yang semacam itu, apakah kita akan secara serta merta mempersilahkan mereka keluar dari Islam dan menerima keberadaah agama baru tersebut sebagai agama. Bukankah kalau begitu nantinya agama akan berkembang biak seperti berkembang biaknya LSM dan partai, yang sekarang ini kita tidak ketahui lagi jumlahnya LSM, karena setiap hari muncul saja LSM baru. begitu juga partai, selalu saja tersiar berita adanya deklarasi partai baru.

Tapi, agamakan tidak bisa disamakan dengan LSM dan partai. Oleh karenanya jangan kemudian agama berkembang biak seperti berkembang biaknya LSM dan partai.

Kemudian, yang tak kalah menariknya adalah sikap Gus Dur yang ngotot mem-bela Ahmadiyah, bahkan beliau pasang badan untuk melindungi Ahmadiyah. Dan hebatnya lagi, kalau ada yang perlu dibu-barkan menurut Gus Dur yang perlu dibu-barkan itu adalah MUI dan Front Pembela Islam (FPI). Bahkan di TV kami tonton Gus Dur menyatakan kalau pemerintah tidak membubarkan FPI, maka Gus Dur yang akan membubarkan FPI.

Fenomena Gus Dur ini menarik, karena keesokan harinya, pendukurig beliau di Jawa Timur dengan pakaian loreng-loreng dengan membawa celurit berdemo dan ada pula yang menyerbu kantor-kantor FPI setempat mendesak dan mengultimatum pembubaran FPI. Kalau di Monas FPI yang melakukan kekerasan itu dikecam berbagai pihak, tapi terhadap pengikut Gus Dur yang melakukan kekerasan yang sama dengan yang diperlakukan FPI di Monas tak ada kecaman. Termasuk oleh mereka yang ramai-ramai mengecam FPI. Tampaknya kalau kekerasan yang dilakukan FPI itu adalah salah dan jelek. Tapi, kekerasan yang dilakukan pengikut Gus Dur tidak salah dan tidak jelek. Kalau begitu kita benar-benar menjadi bangsa yang konyol, yang dalam semua hal memakai standar ganda. Kalau dirasa merugikan kita,……..maka hal itu salah. Kalau dirasakan menguntungkan kita….. maka hal itu tidak salah.

Jawaban :

Meletakkan aliran Ahmadiyah bukan sebagai Islam dan meletakkan pengikut Ahmadiyah bukan sebagai seorang Islam adalah kesepakatan dunia Islam melalui tiga organisasi internasionalnya. Yaitu merupakan keputusan Rabithah Alam Islami, Muktamar Alam Islami dan Konfrensi Negara-Negara Islam (OKI).

Berdasarkan keputusan OKI itu maka pemerintah Saudi Arabia menetapkan penganut Ahmadiyah tidak boleh memasuki “tanah haram” Mekah dan Madinah. Juga kepada mereka tidak diberikan visa untuk menyelenggarakan haji dan umrah. Begitu juga pemerintah Pakistan tidak memasukkan aliran Ahmadiyah sebagai Islam, melainkan ditetapkan pihak/golongan minoritas di Pakistan.

Keputusan pemerintah Pakistan tersebut dan keputusan lembaga-lernbaga Isiam internasional itu adalah merupakan solusi atas keberadaan Ahmadiyah. Sebagaimana sama diketahui pusat dari Ahmadiyah adalah di Pakistan.

Adanya keputusan pemerintah Pakistan dan lembaga-lembaga Islam internasional itu diketahui persis oleh pengikut Ahmadiyah. Sehingga adalah aneh dan mengherankan para pengikut Ahmadiyah di Indonesia ngotot dan bertahan minta diakui sebagai Islam dan sebagai orang Islam.

Dalam keadaan demikian umat Islam bukannya semena-mena mengeluarkan seseorang atau sekelompok orang dari Islam, melainkan membuka kedok seseorang yang bukan Islam supaya jangan Islam dijadikan topeng, padahal ajarannya bertentangan dengan Islam.

Bagi Ahmadiyah yang bukan Islam, maka Islam tidak mempunyai urusan dengannya, karena dengan begitu Ahmadiyah disikapi sebagai pengikut agama lain, yang kepadanya berlaku firman Allah SWT: “Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku“. (Surat 109/AI Kaafiruun, ayat6).

Terhadap Ahmadiyah tidak bisa dipandang hanya sebagai perbedaan tafsir dalam hal agama Islam. Karena Ahmadiyah sudah merubah akidah yang terdapat didalam “rukun iman” karena Ahmadiyah mengakui ada nabi lagi sesudah Nabi Muhammad SAW. Padahal akidah agama Islam menyatakan tidak ada nabi lagi sesudah Nabi Muhamamd SAW.

Kalau Ahmadiyah memaksa untuk diakui sebagai Islam, maka dia merusak ajaran Islam dan dia menginjak-injak hak azazi manusia (HAM). Yaitu HAM-nya umat Islam. Kepada para pejuang HAM terhadap Ahmadiyah hendaklah paham juga bahwa umat Islam Indonesia yang 196 juta orang itu juga mempunyai HAM yang harus dilindungi. Yaitu dilindungi agar kemurnian ajaran agamanya dihormati dan tidak diacak-acak.

Bila ada pihak-pihak lain lagi yang melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Ahmadiyah, sikap umat Islam juga jelas, yaitu silahkan bikin agama sendiri, jangan merusak agama islam.

Tentang Gus Dur yang mau pasang badan, tak usahlah ditanggapi dengan serius, sekalipun Gus Dur udah keluar dari pakemnya. Biasanyakan Gus Dur punya ciri “gitu aja kok cepot”, kini rupanya Gus Dur udah suka ama yang repot-repot. Biar aja dia ngeropotin dirinya sendiri.

Tentang kekerasan, pelajarilah “sosiologi kekerasan”. Gus Dur yang katanya juru damai itu, pengikutnya di Jawa Timur serem-serem (Betawinya : sangar-sangar). Dan penuh bernuansa kekerasan. Dan banyak lagi organisasi-organisasi yang bersikap model “para militer” yang menjurus ke premanisme, hal ini haruslah dicermati dengan seksama bagi suatu usaha untuk tegaknya masyarakat madani. Disini peranan pemerintah besar sekali, premanisme itu seharusnya tidak bisa ditolerir. Bahkan peranan pemerintah itu sangat menentukan. Biang masalahnya disitu. Mari kita tegakkan masyarakat Madani yang benar. Maukah LSM-LSM yang jagoan teriak HAM itu melakukannya?. Jangan-jangan mereka adalah kekerasan dalam bentuk lain.