Dalam Khotbah Jum’at saya sempat tertegun mendengar khotbah yang dibawakan khotib. Saya merasa kecil setelah mendengar khotbah tersebut. Khotib menceritakan mengenai derajat ketakwaan manusia terhadap Tuhannya.

Alkisah dalam suatu desa, tinggallah satu orang alim dan satu orang yang kerjanya maksiat. Pada suatu waktu si alim jengah melihat si maksiat yang selalu bermaksiat seperti minum – minuman keras, bermain perempuan, dan hal – hal yang buruk. Si alim kemudian menegurnya “Dosa kamu kalau begitu terus”.

Kejadian itu berulang – ulang dengan kata “dosa” di dalamnya, pada suatu waktu si maksiat mengatakan  kepada si alim “Menganggu saja engkau, aku sudah mendengar nasihat kamu tapi ini semua urusan saya”.

Masuk dalam bulan Ramadhan, si maksiat berhenti total untuk melakukan kemaksiatan, dia beribadah sepenuh hati kepada Tuhan. Si Alim tidak mengubrisnya karena sudah mencap si maksiat tetap berlumuran dosa.

Si Alim selalu menegur keras kepada yang berbuat maksiat dan dikalangan orang normal ia selalu bangga bahwa dialah orang teralim didesanya.

Pada suatu waktu, kedua orang tersebut dipanggil oleh Tuhan (meninggal dunia), keduanya menyebutkan dua kalimat Syahdat pada saat meninggal. Pada hari pembalasan, si Alim berkata pada Tuhan “Aku selalu bertakwa kepada engkau ya Tuhan, aku selalu beribadah kepadaMu ya Tuhan, tidak putus – putusnya aku menyebarkan ajaran yang benar kepada orang – orang”. Tuhan tidak berkata apa – apa terhadap klaimnya.

si Maksiat pun dapat giliran karena di panggil, ia tetap menuduk, Tuhan berkata padanya “kamu melakukan kemaksiatan, tapi kamu selalu beribadah kepadaKu ketika bulan Ramadhan. kamu berniat bertobat padaKu, aku terima tobatmu. Masuklah kamu ke surga”

si Alim tidak terima kalau si Maksiat masuk surga, ia pun lantang berkata “Ya Tuhan, kenapa dia masuk surga, dia berlumuran dosa, banyak melakukan maksiat. Ia seperti orang kafir”

Tuhan dengan “murka” memberi jawaban “APA HAKMU MENGATAKAN SAUDARA SEAGAMAMU SENDIRI DENGAN KATA KAFIR? (khotib sempat teriak cukup kencang di bagian itu) Apa hakmu mengatakan bahwa ia berDOSA?. Aku sesungguhnya menyukai manusia yang beribadah dengan tulus dan juga bertobat dengan kesungguhan hati untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat di kehidupannya. Yang kamu tunjukkan kepada orang – orang adalah rasa sombong dan mengklaim bahwa kamu alim dan ahli agama. Sesungguhnya AKU mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Akibat perbuatanmu, dosa orang (si Maksiat) ini akan dilimpahkan kepadamu. Kamu (si Alim) masuklah ke kamu neraka”

Si khotib memberikan gambaran yang cukup membuat saya merinding. Derajat Ketakwaan seorang manusia terhadap Tuhannya hanya diketahui oleh Sang Maha Kuasa.

Saya sempat celengak celengok pada khotbah tersebut, dan saya melihat Jamaah lain seperti tertegun dan shock, seperti saya.

Bukan masalah maksiat dan alimnya, melainkan inti dari khotbah (dia menyimpulkan ketika mau selesai Khotbah I) Ibadah ke Allah SWT seharusnya dilakukan dengan tulus dan penuh kecintaan, poin kedua adalah bagaimana kita memperlakukan manusia dengan ADIL dan tidak mengklaim bahwa dirinya BENAR. Dalam khotbah tersebut si khotib sempat mengatakan “Dakwah Islam dengan cara kekerasaan bukan cara dakwah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW”

Hingga hari ini, cerita kotbah Jum’at itu masih berbekas dan saya masih merasa kecil sekali.