Ibadah shaum (puasa), seperti halnya ibadah-ibadah yang lain di dalam Islam, merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah Swt. Bukan hanya shaum saja yang menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah -ini yang sering kita lupakan- tetapi semua ibadah yang kita lakukan sebetulnya merupakan riyadhah untuk mendidikkan nilai moral tertentu, nilai akhlak tertentu.

Setiap ibadah, baik ibadah shaum atau ibadah lain, di dalamnya terkandung apa yang kita sebut sebagai pesan moral. Bahkan begitu mulianya pesan moral ini, sampai Rasulullah Saw. Menilai ‘harga’ suatu ibadah itu dinilai dari sejauh mana kita menjalankan pesan moralnya. Apabila ibadah itu tidak meningkatkan akhlak kita, Rasulullah Saw. menganggap bahwa ibadah itu tidak bermakna. Dengan kata lain, kita tidak melaksanakan pesan moral ibadah itu.

 

Dalam suatu hadis diriwayatkan bahwa pada bulan Ramadhan ada seorang wanita sedang mencaci-maki pembantunya. Dan Rasulullah Saw. mendengarnya. Kemudian beliau menyuruh seseorang untuk membawa makanan dan memanggil perempuan itu. Lalu Rasulullah Saw. bersabda, “Makanlah makanan ini.” Perempuan itu menjawab, “Saya sedang berpuasa ya Rasulullah.” Rasul yang mulia bersabda lagi, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu. Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang yang shaum dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”

Ketika Rasulullah mengatakan “Betapa sedikitnya yang shaum, dan betapa banyaknya yang kelaparan”, Nabi menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang yang hanya menahan lapar dan dahaga saja, tetapi tidak sanggup mewujudkan pesan moral ibadah itu, tidak lebih sekadar orang-orang yang lapar saja.

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw. bersabda, “Banyak sekali orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.” Seseorang bisa saja melakukan ibadah puasa. Dia sanggup mematuhi seluruh ketentuan fiqih, tetapi dia tidak sanggup mewujudkan pesan moral puasa itu. Bahkan kalau orang itu puasanya cacat, atau puasanya itu batal, atau melakukan hal-hal yang terlarang, secara fiqih, maka tebusannya adalah menjalankan pesan moral itu. Misalnya, pada bulan puasa, sepasang suami-istri bercampur pada siang hari, maka kifaratnya ialah memberi makan enam puluh orang miskin, karena salah satu pesan moral puasa ialah memperhatikan orang-orang yang lapar di sekitar kita.

Oleh sebab itu, kita temukan orang-orang yang tidak sanggup berpuasa, di dalam Al-Quran, diharuskan untuk mengeluarkan fidyah buat orang-orang miskin. Jadi kalaupun tidak sanggup menjalankan ritus puasa, tidak sanggup melakukan upacara pelaksanaan puasa itu, paling tidak, laksanakanlah pesan moral puasa itu. Yaitu menyantuni fakir dan miskin.

Sekali lagi, semua ajaran Islam itu mengandung pesan moral. Dan pesan moral itulah yang saya pikir dipandang sangat penting di dalam Islam. Mengapa Islam menekankan prinsip moral itu? Prinsip akhlak itu? Karena kedatangan Rasulullah Saw. yang mulia Saw. bukan hanya untuk mengajarkan zikir dan doa. Bahkan Nabi secara tegas mengatakan bahwa misinya ialah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Oleh karena itu, seluruh ajaran Islam diarahkan untuk menyempurnakan akhlak; termasuk ibadah shaum, bangun tengah malam dan shalat. Semuanya diarahkan untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Bahkan kalau ada orang yang menjalankan pelbagai ‘ibadah mahdhah, tetapi kurang memperhatikan akhlaknya, Islam tidak menghitung ibadah itu. Ketika kepada Rasulullah dikatakan, “Ya Rasulullah ada orang yang berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari untuk melakukan qiyaimul layl, tetapi dia menyakiti tetangganya dengan lidahnya.” Maka Rasulullah Saw. menjawab, “Dia di neraka.”

Nabi pernah bertanya kepada sahabat-sahabatnya, “Tahukah kalian siapa yang bangkrut itu?” Lalu para sahabat berkata, “Bagi kami yang bangkrut itu ialah orang yang kehilangan hartanya dan seluruh miliknya.” “Tidak,” kata Rasulullah. “Yang bangkrut ialah orang yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa pahala dari shaum-nya, pahala zakatnya dan hajinya, tetapi ketika pahala-pahala itu ditimbang datanglah orang mengadu, ‘Ya Allah dahulu orang itu pernah menuduhku berbuat sesuatu padahal aku tidak pernah melakukannya.’ Kemudian Allah menyuruh orang yang diadukan itu untuk membayar orang itu dengan sebagian pahala dan menyerahkannya kepada orang yang mengadu tersebut.
“Kemudian datang orang yang lain lagi dan mengadu, ‘Ya Allah hakku pernah diambil dengan sewenang-wenang.’ Lalu Allah menyuruh lagi membayar dengan amal salehnya kepada orang yang mengadu itu.

“Setelah itu datang lagi orang yang mengadu; sampai seluruh pahala shalat, haji dan shaumnya itu habis dipakai untuk membayar orang yang pemah haknya dirampas, yang pernah disakiti hatinya, yang pernah dituduh tanpa alasan yang jelas. Semuanya dia bayarkan sampai tidak tersisa lagi pahala amal salehnya. Tetapi orang yang mengadu masih datang juga. Maka Allah memutuskan agar kejahatan orang yang mengadu dipindahkan kepada orang itu.”

Kata Rasulullah selanjutnya, “Itulah orang yang bangkrut di Hari Kiamat”, yaitu orang yang rajin menjalankan ritus-ritus itu, upacara-upacara ibadah (shalat, shaum, zakat, dan lain sebagainya) tetapi dia tidak memiliki akhlak
yang baik. Dia merampas hak orang lain dan menyakiti hati mereka.

Lalu, sebenarnya apa yang menjadi pesan moral ibadah shaum yang kita lakukan itu. Salah satu pesan moral ibadah shaum yang utama ialah kita dilarang memakan makanan yang haram; supaya kita menjaga diri jangan sembarang memakan makanan. Bahkan makanan halal pun tidak boleh kita makan sebelum datang waktunya yang tepat. Jadi, jangan sembarang makan. Jangan makan asal saja. Kita mesti memperhatikan apa yang kita makan itu. Sayyidina Ali k.w. pernah berkata, “Jangan jadikan perut Anda sebagai kuburan hewan.” Maksudnya, mungkin, adalah bahwa kita tidak boleh terlalu banyak makan daging; apalagi cara memperolehnya dengan jalan yang tidak halal.

Pesan moral Ramadhan adalah jangan jadikan perut Anda sebagai kuburan orang lain. Jangan jadikan perut Anda sebagai kuburan rakyat kecil. Jangan pindahkan tanah dan ladang milik mereka ke perut Anda. Itulah pesan moral shaum yang menurut saya relevan dengan kondisi saat ini; ketika kita dikejar-kejar oleh konsumtivisme (senang berfoya-foya dan berbelanja barang yang tidak bermanfaat) dan dikejar-kejar untuk meningkatkan status sosial. Kita tidak jarang berani memakan hak orang lain. Kita sering jadi omnivora (binatang pemakan segala) tanpa memperhatikan halal dan haram.

Tetapi, tidaklah cukup hanya sampai di sini pesan moral shaum itu. Shaum juga mengajarkan bahwa walaupun harta itu milik kita, tetapi kita tidak boleh memakannya sebelum datang waktunya yang tepat. Saya, ingin mengutip lagi ucapan Sayyidina Ali k.w., “Tidak pernah aku melihat ada orang yang memperoleh harta yang berlimpah kecuali di sampingnya ada hak orang lain yang disia-siakan.” Kita tidak usah menjadi Marxis, untuk menyadari bahwa keuntungan yang berlimpah ruah yang dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di negara-negara miskin umumnya terjadi karena, misalnya, upah buruh yang murah sehingga si pemilik perusahaan memperoleh keuntungan yang besar. Beberapa waktu yang lalu, misalnya, kita membaca bahwa para pengusaha tekstil memperoleh keuntungan yang besar karena mereka membayar buruh dengan upah yang rendah.

Seandainya kita memperoleh gaji yang cukup tinggi, di dalam Islam, kita tidak boleh memakan semua upah yang kita terima walaupun itu hasil jerih payah kita sendiri. Kita, yang memperoleh penghasilan yang berlebih, mempunyai kewajiban untuk menyantuni orang-orang yang miskin. Dan itu merupakan pesan moral ibadah puasa. Puasa tidak akan bermakna apa-apa sebelum kita memberikan perhatian yang tulus kepada orang-orang yang menderita di sekitar kita. Di Masjid Al-Munawwarah, masjid di belakang rumah saya, dipraktikkan sebuah doa dari Rasulullah Saw. yang lazim diamalkan setiap selesai shalat fardhu di bulan puasa. Menurut saya, doa itu mengandung pesan moral ibadah puasa. Doa itu berbunyi begini:

Ya Allah masukkanlah rasa bahagia kepada penghuni kubur
Ya Allah kayakanlah semua orang-orang yang miskin
Ya Allah kenyangkan orang-orang yang lapar
Ya Allah berilah pakaian orang-orang yang telanjang
Ya Allah bayarkan utang orang-orang yang berutang
Ya Allah bebaskan kesulitan orang yang mendapat kesulitan

Dan seterusnya. Doa itu panjang. Walaupun doa itu merupakan permohonan kita kepada Allah supaya yang lapar dikenyangkan, yang telanjang diberi pakaian, yang sakit disembuhkan, yang mendapatkan kesulitan dihilangkan dari kesulitannya, pada saat yang sama doa itu mengajarkan tanggung jawab kita kepada orang-orang yang menderita di sekitar kita.

Oleh : Dr. Jalaluddin Rakhmat